Tiga Faktor Pemicu Baby Blues pada Ibu Baru: Usia, Anak Pertama, dan Kurangnya Dukungan Sosial

Gambar Hero Section

Peluk Bunda – Melahirkan adalah pengalaman besar yang mengubah hidup seorang perempuan. Namun, tidak semua perubahan itu mudah dijalani. Banyak ibu baru mengalami gejala seperti mudah menangis, merasa cemas, lelah yang tak kunjung hilang, dan merasa tidak mampu menjadi ibu yang baik. Kondisi ini dikenal sebagai baby blues.


Baby blues umumnya muncul pada dua minggu pertama setelah melahirkan. Jika tidak mendapat perhatian, gejala ini bisa berkembang menjadi depresi pasca melahirkan yang lebih serius dan berdampak pada hubungan ibu dengan bayi.


Sebuah penelitian oleh Nur Wulan, Yanti Herlina, dan Sri Sundari pada tahun 2023 di Desa Bayuning, Kabupaten Kuningan, menemukan bahwa lebih dari setengah ibu yang baru melahirkan mengalami gejala baby blues. Penelitian tersebut mengungkap tiga faktor penting yang berkaitan dengan munculnya baby blues, yaitu usia ibu, jumlah anak yang dilahirkan, dan tingkat dukungan sosial yang diterima.


Usia Muda, Emosi yang Belum Stabil

Ibu yang berusia antara 17 hingga 25 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami baby blues dibandingkan ibu yang berusia 26 tahun ke atas. Usia yang masih tergolong muda seringkali dikaitkan dengan kematangan emosional yang belum stabil serta kurangnya pengalaman dalam menghadapi peran sebagai ibu.


Kurangnya kesiapan mental dalam menerima tanggung jawab baru dapat membuat ibu muda merasa kewalahan. Banyak dari mereka merasa tidak siap, bahkan tidak percaya diri dalam merawat bayinya.


Anak Pertama, Tantangan yang Tidak Terduga

Ibu yang baru pertama kali melahirkan (primipara) juga lebih rentan mengalami baby blues. Mereka harus belajar banyak hal dalam waktu singkat, seperti menyusui, memandikan bayi, menenangkan tangisan, dan begadang setiap malam. Situasi ini bisa memunculkan rasa tidak mampu, stres, bahkan keputusasaan.


Sebaliknya, ibu yang sudah memiliki anak sebelumnya cenderung lebih siap karena telah memiliki pengalaman dan keterampilan dasar dalam mengurus bayi.


Dukungan Sosial yang Kurang, Beban Emosional yang Bertambah

Penelitian juga menunjukkan bahwa rendahnya dukungan sosial dari suami, keluarga, atau orang terdekat menjadi salah satu pemicu utama baby blues. Ibu yang merasa sendiri dalam menghadapi perubahan besar setelah melahirkan cenderung lebih mudah merasa sedih, kesepian, dan tidak berdaya.

Dukungan tidak selalu harus besar. Hal-hal kecil seperti mendengarkan keluh kesah istri, membantu menggendong bayi, menemani ke posyandu, atau hanya menanyakan kabarnya setiap hari dapat memberi dampak besar bagi kondisi emosional ibu.


Kesimpulan

Baby blues adalah kondisi yang nyata dan tidak boleh diabaikan. Perlu pemahaman bersama bahwa menjadi ibu, terutama untuk pertama kalinya, adalah proses adaptasi yang besar. Dengan dukungan yang tepat, baik dari pasangan maupun lingkungan sekitar, ibu dapat melewati masa ini dengan lebih tenang dan sehat secara mental.


Peluk Bunda mengajak semua pihak, terutama para suami dan keluarga, untuk hadir dan peduli. Karena ibu yang merasa dicintai dan didukung akan lebih siap memberikan kasih sayang terbaik untuk buah hatinya.